Loading Now

Inovasi “Gebuk Stunting” Berhasil Turunkan Prevalensi Stunting di Kota Bekasi

Kota Bekasi, 14 Juli 2024 – Pemerintah Kota Bekasi melalui inovasi “Gebuk Stunting” (Gerakan Cegah Gizi Buruk dan Stunting) telah berhasil menurunkan prevalensi stunting secara signifikan di wilayahnya. Berdasarkan data terbaru dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, angka stunting di Kota Bekasi tercatat sebesar 3,4%, dengan jumlah anak yang mengalami stunting sebanyak 4.575 anak. Angka ini menunjukkan penurunan dari 7,9% pada tahun 2021.

Program “Gebuk Stunting” merupakan respon terhadap tantangan serius terkait gizi buruk dan stunting yang masih menjadi perhatian utama pemerintah. Stunting sendiri, atau kondisi tubuh pendek akibat gizi buruk kronis, telah menjadi salah satu masalah gizi yang paling mendesak di Indonesia. Prevalensi stunting nasional mencapai 21,6% pada 2022, melebihi ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20%.

 Di Kelurahan Margahayu, yang merupakan salah satu wilayah dengan angka stunting yang tinggi, inovasi ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Prevalensi stunting di Kelurahan Margahayu tercatat sebesar 2,6%, wasting sebesar 5,6%, underweight sebesar 3,8%, dan gizi buruk sebesar 0,01%. Melalui program ini, berbagai intervensi gizi dan layanan kesehatan telah diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut.

Stunting merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi, kerawanan pangan, status gizi, dan sanitasi. Di Kelurahan Margahayu, beberapa wilayah masih mengalami masalah sanitasi yang buruk, dengan masih adanya praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Kondisi ini berkontribusi terhadap tingginya angka stunting dan gizi buruk.

Program “Gebuk Stunting” di Kota Bekasi didukung oleh berbagai regulasi, termasuk PP No. 87 Tahun 2014 tentang Upaya Peningkatan Gizi, Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, dan RPJMD Kota Bekasi 2020-2024 yang menetapkan target prevalensi stunting sebesar 9,8% pada 2022.

Program ini bertujuan untuk:

  1. Mengurangi angka stunting dan gizi buruk melalui intervensi gizi dan layanan kesehatan yang terintegrasi.
  2. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi yang baik dan praktik sanitasi yang tepat.
  3. Memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan layanan kesehatan yang memadai.
  4. Membangun kerjasama yang efektif antara berbagai sektor dan instansi terkait.

Manfaat dari inovasi ini antara lain:

  • Anak-anak mendapatkan asupan gizi yang memadai, mengurangi risiko stunting dan gizi buruk.
  • Mempermudah akses layanan kesehatan bagi keluarga kurang mampu.
  • Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gizi seimbang dan sanitasi melalui kampanye edukasi.
  • Mengurangi praktik BABS dan memperbaiki kondisi sanitasi di wilayah tersebut.
  • Memberikan dukungan sosial dan psikologis bagi keluarga terdampak.

Melalui inovasi “Gebuk Stunting”, terjadi penurunan signifikan dalam prevalensi stunting dan gizi buruk di Kelurahan Margahayu. Data menunjukkan penurunan jumlah kasus stunting dari tahun ke tahun, mencerminkan keberhasilan program ini. Inovasi ini juga berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan pola hidup sehat melalui pendekatan yang terintegrasi dengan lintas sektor.

Kerjasama antara UPTD Puskesmas Karang Kitri, RSUD CAM, dan rumah sakit swasta di sekitar wilayah Kelurahan Margahayu sangat membantu dalam memberikan layanan kesehatan yang komprehensif kepada balita. Program ini memastikan adanya intervensi medis yang diperlukan untuk memperbaiki status gizi balita.

Pada tahun 2023, intervensi gizi spesifik mulai diterapkan kepada 10 balita dengan kondisi stunting, termasuk 2 balita dengan gizi buruk. Intervensi ini melibatkan pemberian satu telur setiap hari selama enam bulan dari dana CSR rumah sakit swasta di wilayah Puskesmas Karang Kitri, serta pemberian makanan tambahan sesuai arahan Puskesmas saat posyandu setiap bulan.

Inovasi “Gebuk Stunting” memperkenalkan terobosan dalam intervensi gizi spesifik dan sensitif, melibatkan berbagai pihak dari tingkat kelurahan hingga puskesmas. Puskesmas Karang Kitri memainkan peran kunci dalam memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif, mengutamakan upaya promotif dan preventif.

Forum Cegah Gizi Buruk dan Stunting (Force Stunting) dibentuk untuk membantu pemerintah menurunkan prevalensi stunting dan gizi buruk, serta meningkatkan angka harapan hidup dan indeks pembangunan manusia. Pada 2023, mulai dilakukan intervensi gizi spesifik dengan pemberian satu telur per hari kepada balita stunting dan gizi buruk selama enam bulan.

Inovasi “Gebuk Stunting” telah membawa dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Kelurahan Margahayu dan Kota Bekasi secara keseluruhan. Dengan intervensi gizi yang tepat sasaran dan layanan kesehatan yang komprehensif, program ini berhasil menurunkan prevalensi stunting dan gizi buruk, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan pola hidup sehat. Kolaborasi lintas sektor yang kuat menjadi kunci keberhasilan program ini, memberikan harapan baru bagi masa depan anak-anak di Kota Bekasi.

Post Comment