Loading Now

BESTIE Sulap Lahan Kosong SDN 9 Pasemah Air Keruh Menjadi Taman Empon-Empon

EMPAT LAWANG — SD Negeri 9 Pasemah Air Keruh menghadirkan inovasi BESTIE atau Budidaya Empon-Empon Sekolah Terpadu dan Inspirasi Ekologi untuk mengoptimalkan lahan sekolah yang belum dimanfaatkan. Program non-digital ini mengubah area yang semula gersang atau kurang terawat menjadi taman herbal yang rapi dan produktif. Siswa bersama guru menanam tanaman seperti serai, kunyit, jahe, dan lengkuas sebagai bagian dari pembelajaran langsung di luar kelas. Kehadiran taman tersebut sekaligus memperkuat fungsi sekolah sebagai ruang pendidikan yang sehat, hijau, dan dekat dengan lingkungan.

Gagasan BESTIE berangkat dari kenyataan bahwa halaman sekolah sering hanya dipandang sebagai pelengkap kegiatan belajar di dalam ruang kelas. Padahal, lahan tersebut dapat dikembangkan menjadi laboratorium alam yang membantu siswa memahami pertumbuhan tanaman dan pentingnya menjaga ekosistem. Pemanfaatan empon-empon dipilih karena tanaman ini relatif mudah dibudidayakan serta memiliki manfaat bagi kesehatan. Dengan pendekatan itu, sekolah tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga membangun apotek hidup yang dapat dikenali dan dipelajari oleh seluruh warga sekolah.

Program ini dirancang oleh Dea Meiliana, S.Pd., dengan dukungan Kepala SD Negeri 9 Pasemah Air Keruh, Malihatul Ausa, S.Pd.I. Pelaksanaannya menekankan kerja sama antara guru, siswa, pengelola kebun, dan warga sekolah melalui pembentukan Tim BESTIE. Siswa yang tergabung sebagai kader ekologi memperoleh tanggung jawab untuk menanam, menyiram, memberi pupuk alami, dan mencatat perkembangan tanaman. Pembagian peran tersebut membuat kegiatan penghijauan berjalan lebih terarah serta tidak berhenti sebagai aktivitas sesaat.

Belajar Ekologi Melalui Praktik Langsung

BESTIE menghadirkan pembelajaran kontekstual dengan menjadikan taman herbal sebagai media belajar lintas mata pelajaran. Siswa dapat mengenal jenis dan bagian tanaman dalam pembelajaran ilmu pengetahuan, mencatat pertumbuhan melalui kegiatan literasi, serta mengolah hasil panen dalam kegiatan prakarya. Perkembangan setiap tanaman dicatat melalui jurnal sederhana agar proses budidaya dapat diamati secara terukur. Cara tersebut membuat siswa memperoleh pengalaman nyata yang melengkapi pengetahuan teoritis dari buku pelajaran.

Penanaman dilakukan secara organik dengan memanfaatkan media tanam dan pupuk alami yang disiapkan bersama. Sebelum pelaksanaan, siswa mendapatkan pelatihan mengenai pemilihan bibit, teknik penanaman, jadwal penyiraman, dan cara mengatasi hama secara alami. Setiap kelompok memperoleh pendampingan agar mampu merawat tanaman secara mandiri dan bertanggung jawab. Kegiatan ini sekaligus menumbuhkan sikap gotong royong, disiplin, dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Kebaruan BESTIE terletak pada pengelolaan kebun sekolah yang dilakukan secara terpadu dan terdokumentasi. Berbeda dari kegiatan menanam yang hanya berlangsung sesekali, program ini memiliki jadwal perawatan, pencatatan pertumbuhan, monitoring bulanan, dan evaluasi hasil. Kolaborasi antarkelas juga diterapkan agar siswa yang lebih besar dapat mendampingi adik kelas dalam menjaga kebun. Sistem tersebut diharapkan menjaga keberlanjutan taman sekaligus memperkuat budaya belajar bersama di lingkungan sekolah.

Taman Herbal untuk Kesehatan dan Inspirasi

Keberadaan tanaman empon-empon memberikan manfaat ekologis sekaligus kesehatan bagi warga sekolah. Lingkungan menjadi lebih hijau, sejuk, dan tertata, sementara siswa semakin mengenal bahan herbal yang tersedia di sekitar mereka. Hasil panen seperti jahe dan kunyit dapat diolah menjadi minuman kesehatan sederhana dengan pendampingan guru. Pemanfaatan tersebut memperlihatkan kepada siswa bahwa tanaman lokal memiliki nilai guna yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Program BESTIE juga membuka ruang pengembangan keterampilan kewirausahaan melalui kegiatan Pasar Empon Sekolah. Hasil budidaya dapat diperkenalkan dalam bentuk tanaman, bahan herbal, atau produk sederhana yang diolah secara aman dan edukatif. Kegiatan itu membantu siswa memahami proses dari menanam, merawat, memanen, hingga mengenalkan hasilnya kepada orang lain. Sekolah berharap pengalaman tersebut dapat menumbuhkan kreativitas dan kemandirian tanpa menghilangkan tujuan utama pendidikan lingkungan.

Dikembangkan dalam Sembilan Minggu

Tahapan penciptaan BESTIE berlangsung selama sembilan minggu sejak Juli hingga awal September 2025. Proses dimulai dengan identifikasi lahan kosong dan rendahnya pengetahuan siswa mengenai tanaman obat, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan sistem kerja serta aturan perawatan. Sosialisasi dan pembentukan kader hijau dilaksanakan sebelum memasuki tahap uji coba penanaman di area terbatas. Evaluasi pada akhir kegiatan digunakan untuk melihat pertumbuhan tanaman, pemahaman siswa, dan aspek program yang masih perlu diperbaiki.

BESTIE menunjukkan bahwa perubahan lingkungan sekolah dapat dimulai melalui langkah sederhana yang dikerjakan secara konsisten. Lahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini diarahkan menjadi taman herbal, tempat praktik, dan sumber pembelajaran bagi siswa. Inovasi ini juga mendukung upaya sekolah membangun citra sebagai sekolah hijau yang peduli terhadap kesehatan dan kelestarian alam. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, BESTIE diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Kabupaten Empat Lawang.

Sumber bahan berita: BESTIE (Budidaya Empon-Empon Sekolah Terpadu & Inspirasi Ekologi), SD Negeri 9 Pasemah Air Keruh, Kabupaten Empat Lawang, Tahun 2025.

Post Comment